Langsung ke konten utama

#1



Isi kepalaku masih ramai. Di saat seperti ini dan belum bisa tidur, terkadang aku bingung harus bagaimana. Membiarkan pikiran berseliweran sungguh mengganggu, terlebih di malam Senin seperti ini. Besok harus bangun pagi untuk kerja lagi, tetapi berusaha tidur pun sulit sekali. Dan aku ingat kalau ada blog yang sudah lama tidak ku gunakan. Here I am, berusaha menuliskan beberapa pikiran yang bisa aku tumpahkan lewat tulisan.

Benar kata Pamungkas; nights are the hardest. Pagi hari hingga siang atau sore di jam kerja, pikiranku tidak terlalu menggangguku. Mungkin karena di kantor aku bertemu banyak orang, membicarakan banyak hal, mengurus ini-itu terkait pekerjaan, hingga tertawa bersama teman-teman mengenai apapun. Meskipun itu menguras tenagaku, tapi rasanya melalui hal-hal itu tidak terlalu sulit dibandingkan melalui malam-malam sendirian di kosan penuh dengan berbagai macam pikiran memenuhi kepala.

Ada banyak orang yang aku rindukan. Terkadang aku rindu adik-adikku. Hampir dua tahun merantau di Purwokerto, bagiku yang belum pernah benar-benar merantau untuk waktu yang lama, tentu tidak mudah. Di rumah, meskipun terkadang menyebalkan, sekarang baru aku tahu kalau kehadiran adik-adikku amat sangat berarti. Yaa bukankah memang begitu? Kita baru menyadari betapa seseorang itu berharga, seringnya, saat mereka tidak ada lagi di samping kita. Adik-adikku adalah my safe place. Tempat teramanku. Menjadi anak sulung tidaklah mudah. Memiliki mereka sebagai adikku adalah sesuatu yang aku syukuri. Tentu ada banyak hal yang sudah kami alami bersama selama hidup seatap, suka dan duka. Terkadang aku menjumpai diriku bergantung pada adikku, menjadi childish kepada mereka. Membiarkan mereka memberikan sedikit nasehat kepadaku, mendengarkan saran mereka tentang bagaimana aku harus menghadapi hidupku. Aku ingat sekali waktu kemarin aku sakit dan tidak berani memberitahukannya ke orang tua karena aku tahu pasti mereka akan sangat khawatir. Adikku menjadi sangat cerewet, tiap hari menanyakan bagaimana kondisiku, mengingatkan aku untuk minum obat dan makan yang teratur serta segera ke rumah sakit jika sakitku tidak kunjung membaik. Aku senang diperhatikan oleh mereka. Rasanya hangat saat kamu tahu ada seseorang yang benar-benar tulus menyayangimu dan benar-benar mengkhawatirkan keselamatanmu.

Aku juga rindu teman-teman dekatku saat sekolah dan kuliah dulu. Aku rindu berburu makanan / minuman yang sedang promo, mengunjungi kosan / rumah mereka sekedar untuk leyeh-leyeh, dan tentu memeluk mereka. Entah kenapa aku menyukai pelukan. Saat ada banyak hal yang aku pikirkan, ada banyak hal berat yang aku lalui, dan aku tidak sanggup menceritakannya kepada mereka dengan kata-kata, biasanya aku hanya akan memeluk mereka sambil diam dalam beberapa menit. Lalu ajaib! Semuanya akan membaik seketika. Tentu orang-orang datang dan pergi, termasuk mereka. Semakin dewasa, semakin kami menyadari bahwa kami tidak bisa lagi sedekat dulu. Tempat tinggal yang berjauhan, urusan pekerjaan masing-masing yang melelahkan, lingkungan dan teman-teman baru yang kami temui tentu membuat kami harus terus melanjutkan hidup masing-masing di jalan masing-masing. Sesekali kami masih saling kontak. Jika aku sangat rindu mereka, aku akan dengan random menelfon mereka. Menanyakan kabar, membicarakan banyak hal tidak penting, membiarkan rindu ini terkikis pelan-pelan.

Beberapa teman ada yang sudah menikah, bahkan mempunyai anak. Aku sudah punya ponakan yang lucu-lucu dan menggemaskan! Rasanya ikut senang ketika teman-temanku satu per satu menemukan kebahagiaan mereka. Lewat pasangan mereka, lewat keluarga kecil mereka, lewat pekerjaan mereka. Aku harap suatu saat aku bisa menemukan kebahagiaan serupa. Bukankah menyenangkan memiliki seseorang yang akan mendampingimu sampai tua? Hidup bersama dengan seseorang hingga akhir hayat. Menua bersama anak-anak yang terkadang masih kamu debatkan, apakah dia lebih mirip dirimu atau pasanganmu?

Pada akhirnya, manusia memang akan kembali sendirian setelah dipertemukan dengan banyak orang selama hidupnya. Tapi ketika kamu bisa menemukan orang-orang yang membahagiakanmu —dan yang bisa kamu buat bahagia selama hidup, tentu hatimu akan penuh dan itu hal yang baik bukan?

Kehidupan kosan memang menyenangkan, tapi untukku, itu juga rentan dengan kesepian. Sekarang aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Pakdhe saat ia ditinggal sendirian di rumah. Istrinya meninggal, anak-anaknya sudah memiliki keluarga masing-masing dan tinggal di luar kota. Pakdhe hanya tinggal di rumah bersama dengan asisten rumah tangganya. Dan baru pada hari-hari menjelang kematiannya, seluruh keluarga membersamainya di rumah. Dan setelah ditinggalkan untuk selamanya, yang tersisa di diriku adalah penyesalan karena dulu tidak sering mengunjunginya.

Aku ingin menghentikan seluruh pikiran yang berseliweran di kepala. Aku ingin berhenti memikirkan banyak hal yang mungkin beberapa tidak terlalu penting untuk dipikirkan. Tetapi rasanya sulit.

Aku lelah, ingin istirahat.

*Photo by Haiming Xiao on Unsplash

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#5

Beberapa hari yang lalu, karena  stress  melihat rambut yang makin tidak terkendali rontoknya, aku memutuskan memotong rambutku sendiri. Hal ini bukan yang pertama kali aku lakukan. Kerontokan rambut ekstrem ini sudah aku alami sejak dulu, tapi sepertinya baru semakin parah dalam setahunan terakhir. Hasil potongannya tidak rapi, tapi ada perasaan lega ketika rambutku yang tadinya hampir sepunggung kini tinggal sebahu, bahkan lebih pendek. Aku biasanya tidak pernah menggunakan poni (meskipun dahiku cukup lebar dan terkadang membuatku tidak percaya diri karena itu). Tapi entah apa yang ku pikirkan, saat itu ku putuskan untuk menyisakan sedikit rambut (dari total rambutku yang juga sudah sedikit) untuk ku potong pendek sebagai poni. Saat semuanya selesai, aku tidak bisa menahan senyum ketika melihat hasilnya di cermin. Melihat bayanganku di cermin, membawaku menjadi banyak merenung. Poni menutup dahi yang sedikit terlalu pendek, rambut lurus yang lebih pendek dari bahu. Ketika ak...

Jurnal Harian

Hari ini, aku akan memulai untuk menulis jurnal harian. Ide ini terinspirasi dari blogger favoritku (yang sekarang juga menjadi influencer ), Keriba Keribo, alias kak Kresnoadi. Di salah satu tulisannya di Karyakarsa, beliau bercerita bahwa ia memiliki sebuah kebiasaan di akhir tahun, yakni melihat kembali jurnal harian yang ia tulis selama 1 tahun terakhir. Dia menuliskan hal-hal apa saja yang dia lalui dalam sehari, yang penting maupun yang tidak penting, untuk kemudian ia lakukan rutin selama setahun, dua tahun, dan tahun-tahun berjalan berikutnya. Dengan kebiasaan itu, ia bisa mengingat moment2 dalam hidupnya. Ketika ia down  dan merasa hidup gini-gini aja, ia akan kembali dibuat bersyukur ketika melihat jurnal hariannya. Bahwa... pernah loh, hidupnya menjadi semenantang itu atau banyak juga moment-moment seru yang mungkin sempat ia lupakan. So, mulai hari ini, aku memutuskan untuk mengadaptasikan kebiasaannya. Jurnal hari ini akan ku buka dengan sedikit cerita mengenai film ...