Beberapa hari yang lalu, karena stress melihat rambut yang makin tidak terkendali rontoknya, aku memutuskan memotong rambutku sendiri. Hal ini bukan yang pertama kali aku lakukan. Kerontokan rambut ekstrem ini sudah aku alami sejak dulu, tapi sepertinya baru semakin parah dalam setahunan terakhir. Hasil potongannya tidak rapi, tapi ada perasaan lega ketika rambutku yang tadinya hampir sepunggung kini tinggal sebahu, bahkan lebih pendek. Aku biasanya tidak pernah menggunakan poni (meskipun dahiku cukup lebar dan terkadang membuatku tidak percaya diri karena itu). Tapi entah apa yang ku pikirkan, saat itu ku putuskan untuk menyisakan sedikit rambut (dari total rambutku yang juga sudah sedikit) untuk ku potong pendek sebagai poni. Saat semuanya selesai, aku tidak bisa menahan senyum ketika melihat hasilnya di cermin.
Melihat bayanganku di cermin, membawaku menjadi banyak merenung. Poni menutup dahi yang sedikit terlalu pendek, rambut lurus yang lebih pendek dari bahu. Ketika aku tersenyum di depan cermin, aku seperti melihat gambaran diriku saat kecil, dengan gaya rambut yang hampir tidak berbeda. Hanya saja pipi yang lebih tembem dan bentuk wajah yang tampak lebih bulat. Serta wajah yang tidak semulus saat kecil, sudah ada beberapa bekas jerawat yang belum menghilang, di beberapa titik ada pula jerawat yang baru mulai meradang. Puput kecil dulu tidak suka berponi, tetapi aku ingat, Bapak sering menyisir rambutku sesaat sebelum berangkat sekolah dan membuat poni pendek yang menutup dahiku. Karena aku risih ada rambut di dahi, setiap Bapak pulang dari mengantarku ke TK, aku dengan buru-buru menyingkirkan poni itu. Astaga.
Aku seperti melihat Puput kecil sedang bercermin. Tak hanya tampilan luar, aku rasa akhir-akhir ini aku mulai menyadari bahwa tidak banyak yang berubah dari diriku. Meskipun usiaku sudah menginjak 26 tahun, ku pikir tidak banyak yang bisa aku ubah sampai detik ini. Sifatku, caraku bereaksi terhadap lingkunganku, caraku berteman, bersosialisasi, aku tidak yakin apakah aku juga berubah seperti kebanyakan orang. Ataukah aku hanya bertambah tua dari segi usia, dan tidak lagi bertumbuh sebagai Puput yang semakin dewasa dan semakin bijaksana.
Ada banyak harapan yang dilimpahkan padaku, sampai-sampai terkadang harapan itu menjadi tekanan yang terus menekan si Puput kecil. Aku harus begini, aku harus begitu, aku harus bisa menjadi ini, aku harus bisa menjadi itu. Aku berusaha menyenangkan banyak orang, berusaha membanggakan orang yang aku sayang. Tapi pada akhirnya, aku menyerah. Menyenangkan semua orang bukan perkara mudah. Konsekuensi terbesarnya adalah aku bisa kehilangan diriku. Dan sepertinya, itulah yang pelan-pelan aku hadapi saat ini.
Menjadi dewasa tidaklah mudah. Aku harus bisa berpura-pura, menjadi aktris yang baik di kehidupanku sendiri. Harus memerankan peran yang sebisa mungkin selalu protagonis, walau pada kenyataannya aku bisa menjadi antagonis di hidup sebagian orang. Ada beberapa situasi dimana aku merasa serba salah, maju kena mundur kena. Aku belajar bahwa kebaikan sekalipun tidak selamanya dipandang baik. Ada banyak karakter orang yang berbeda yang aku temui, tidak terduga-duga, dan cukup membawa pengaruh yang signifikan pada hidupku. Tapi, apakah selama ini aku sudah berubah? Apakah aku berubah menjadi pribadi yang lebih baik, ataukah justru tetap jalan di tempat?
Aku masih seperti Puput kecil yang pendiam. Sangat pendiam. Aku ingat bagaimana dulu di penerimaan rapot kelas 1 SD, wali kelasku mengatakan kepada Bapak bahwa aku lebih sering mengangguk seperti siwur, Siwur sendiri adalah istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut gayung yang dibuat dari tempurung kelapa dan dilengkapi dengan tangkai kayu. Entahlah bagaimana gerakan mengangguk diibaratkan seperti siwur. Bapak kemudian menegurku, bahwa aku harus lebih banyak berbicara, jangan takut untuk berbicara baik dengan guru maupun teman-teman sekelas. Tapi aku ingat perasaanku saat itu. Aku sedih karena itu mungkin kali pertama aku menyadari bahwa mengangguk saja ketika ditanya itu kurang baik. Aku harus berani untuk berbicara dengan guru maupun teman sekelas. Tentu dengan bahasa yang sopan dan mengerti unggah ungguh jika berbicara dengan guru atau yang lebih tua dariku.
Aku ingat bagaimana aku terbiasa di-bully di SD. Pernah waktu itu aku dan beberapa teman sekelas maupun dari kelas lain, membentuk kelompok untuk mengikuti pesta siaga. Pesta siaga, yang seharusnya sesuai dengan judulnya yang menggunakan kata "pesta", identik dengan hal yang menyenangkan. Tapi itu menjadi salah satu mimpi burukku yang tidak akan pernah aku lupakan bahkan sampai sekarang. Aku ingat ketika aku dikucilkan di kelompok itu di setiap sesi latihan, bahkan teman sekelas yang aku percaya dan dekat denganku, ikut menjauhiku di kelompok itu. Aku tau pusat dari segala kebencian terhadapku. Ketua kelompok kami, seorang siswi perempuan dari kelas sebelah, menjadi orang yang paling dominan di kelompok kami. Dialah pusat dari semuanya, dia sangat berpengaruh terhadap sikap teman-teman lain terhadapku. Teman-teman mungkin mendekatinya karena selain karena dia adalah siswi yang pintar, dia sangat dominan, dan mungkin karena mereka tidak ingin ikut dikucilkan sepertiku. Katanya orang berteman itu berdasarkan dua hal: mempunyai ketertarikan yang sama, atau mempunyai musuh yang sama. Dan ya, mereka sepertinya saat itu menggunakan alasan yang kedua untuk berteman. Dan aku ada di pihak musuh yang mereka musuhi bersama.
Aku sudah 26 tahun, tapi ternyata memori tentang kejadian kurang mengenakkan saat itu masih belum bisa ku lupakan. Sepertinya memang tidak bisa dilupakan. Jika ditanya apakah aku sudah bisa menerima itu dan berdamai dengan itu semua, aku bahkan tidak yakin apa jawabannya. Kurasa aku belum bisa menjadi orang yang percaya diri, terkadang masih belum sepenuhnya menerima diri sendiri dan kekurangannya. Harapan orang-orang terlalu banyak kepadaku. Sebagian memandangku sebagai orang yang hebat dan serba berkecukupan, nyatanya aku juga seorang pecundang yang bahkan memiliki masalah dalam bersosialisasi dengan sesama, banyak kurangnya. Aku ingin diriku, orang-orang di sekitarku menjadi lebih menerima diriku, bahwa aku tidak selamanya hebat dan kuat seperti yang mereka harapkan. Aku juga punya kelemahan. Dan it's ok, bukan?
*Photo by Paul Berthelon Bravo on Unsplash

Komentar
Posting Komentar