Langsung ke konten utama

Jurnal Harian



Hari ini, aku akan memulai untuk menulis jurnal harian. Ide ini terinspirasi dari blogger favoritku (yang sekarang juga menjadi influencer), Keriba Keribo, alias kak Kresnoadi. Di salah satu tulisannya di Karyakarsa, beliau bercerita bahwa ia memiliki sebuah kebiasaan di akhir tahun, yakni melihat kembali jurnal harian yang ia tulis selama 1 tahun terakhir. Dia menuliskan hal-hal apa saja yang dia lalui dalam sehari, yang penting maupun yang tidak penting, untuk kemudian ia lakukan rutin selama setahun, dua tahun, dan tahun-tahun berjalan berikutnya. Dengan kebiasaan itu, ia bisa mengingat moment2 dalam hidupnya. Ketika ia down dan merasa hidup gini-gini aja, ia akan kembali dibuat bersyukur ketika melihat jurnal hariannya. Bahwa... pernah loh, hidupnya menjadi semenantang itu atau banyak juga moment-moment seru yang mungkin sempat ia lupakan. So, mulai hari ini, aku memutuskan untuk mengadaptasikan kebiasaannya.

Jurnal hari ini akan ku buka dengan sedikit cerita mengenai film yang aku tonton semalam di website Japanese Film Festival Online 2024 berjudul We Made a Beautiful Bouquet. Dari judulnya, pasti kamu sudah bisa menebak genre film ini. Ya, film ini memiliki genre drama and romance. Singkatnya, aku sangat menyukai film ini. Aku sudah lama tidak menonton film / drama romance karena ceritanya yang seringnya kurang relate dengan percintaan yang pada umumnya terjadi di dunia nyata. Tapi film ini berbeda. Banyak review yang mengatakan bahwa film ini sangat realistis, dan aku setuju dengan pendapat itu. Di awal hingga pertengahan film, kita disuguhkan dengan adegan-adegan romantis yang terjadi pada sepasang kekasih seusia remaja sekolah menengah atas. Jujur saja, ini membuatku nostalgia. Saat menontonnya, aku seperti dibawa kembali ke masa-masa SMA dimana jatuh cinta terasa menyenangkan. Saat semesta memberimu dan seseorang kebetulan-kebetulan yang terus berulang, lalu kamu bisa saja menyimpulkan bahwa itu adalah sinyal bahwa kalian ditakdirkan untuk bersama seterusnya. Maybe he is the one. Sampai sini, seems familiar, right? Tapi siapa sangka, bisa jadi semesta memberimu sinyal palsu. Dan ya, itulah yang terjadi di setengah sisa filmnya. Bagaimana kesamaan-kesamaan yang kamu miliki dengan seseorang, yang tadinya membuatmu berpikir bahwa dialah yang paling cocok untukmu, ternyata tidak selalu demikian. Ah, menonton film ini benar-benar seperti disadarkan kembali bahwa hidup itu dinamis, pun begitu manusia. Setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan, dan itu tidak akan terelakkan mau bagaimanapun kita menghindarinya. Tidak akan pernah ada happily ever after seperti cerita di dongeng-dongeng.

Aku selesai menonton film ini hingga mungkin pukul 12 tengah malam? Lalu akhirnya aku tidur dan menyadari bahwa hari sudah Senin lagi. Seperti biasa, pagi hari di kantor dibuka dengan apel pagi. Kemudian Tim Kerjaku sedang sibuk menyiapkan acara untuk Rapat Koordinasi dan Evaluasi yang akan berlangsung selama 2 hari ke depan. Aku hanya sibuk sebentar untuk merekap laporan bulanan dan membantu beberapa urusan surat menyurat. Tidak terasa hari sudah siang dan sudah waktunya makan siang.

Entah sejak kapan aku menyukai jam makan siang di kantorku saat ini. Aku bisa duduk di kursi belakang sebelah mbak Astri, mengajaknya dan teman-teman lain mengobrolkan apapun sembari menyelipkan diskusi "Mau makan siang apa hari ini?" di sela-sela obrolannya. Kami pun memutuskan untuk makan mie ayam. Setelahnya, kami lanjut membeli kopi di Belikopi. Lebih tepatnya, hanya aku dan Whinda yang membelinya. Hari menjelang sore dan mbak Peni mengajak untuk go-food lagi. Akhirnya demi menemani keinginan si bumil, kami pun turut membeli makanan via go-food, yaitu Gacoan. Hehe. Aku membeli seporsi udang keju yang nikmat itu dan kemudian 1 cup greentea thai tea. Setelah sholat ashar, kami pun akhirnya pulang. Karena jalanan yang lumayan macet (seperti biasa), akhirnya aku baru tiba di rumah saat maghrib. Sekeluarga sedang menjalankan sholat maghrib berjamaah di mushola rumah ketika aku baru saja memasuki rumah. Selanjutnya aku lanjut beberes, sholat, mandi, mengecek WA dan scroll timeline X untuk beberapa saat, menonton video youtube Erika dan Mikiya yang makin manis saja, lalu membuka laptop dan menulis jurnal harian ini.

Kesimpulannya, alhamdulillah hari ini menyenangkan.

Harapannya, semoga besok juga dilancarkan dan dimudahkan sehingga hariku juga berjalan menyenangkan lagi.

Setelah ini rencananya aku akan menelfon A Adil sebentar, lalu lanjut nonton film di Japanese Film Festival Online 2024 jika tidak keburu mengantuk dan lelah.


Jurnal hari ini, selesai.

*Photo by Vista Wei on Unsplash

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#5

Beberapa hari yang lalu, karena  stress  melihat rambut yang makin tidak terkendali rontoknya, aku memutuskan memotong rambutku sendiri. Hal ini bukan yang pertama kali aku lakukan. Kerontokan rambut ekstrem ini sudah aku alami sejak dulu, tapi sepertinya baru semakin parah dalam setahunan terakhir. Hasil potongannya tidak rapi, tapi ada perasaan lega ketika rambutku yang tadinya hampir sepunggung kini tinggal sebahu, bahkan lebih pendek. Aku biasanya tidak pernah menggunakan poni (meskipun dahiku cukup lebar dan terkadang membuatku tidak percaya diri karena itu). Tapi entah apa yang ku pikirkan, saat itu ku putuskan untuk menyisakan sedikit rambut (dari total rambutku yang juga sudah sedikit) untuk ku potong pendek sebagai poni. Saat semuanya selesai, aku tidak bisa menahan senyum ketika melihat hasilnya di cermin. Melihat bayanganku di cermin, membawaku menjadi banyak merenung. Poni menutup dahi yang sedikit terlalu pendek, rambut lurus yang lebih pendek dari bahu. Ketika ak...

#1

Isi kepalaku masih ramai. Di saat seperti ini dan belum bisa tidur, terkadang aku bingung harus bagaimana. Membiarkan pikiran berseliweran sungguh mengganggu, terlebih di malam Senin seperti ini. Besok harus bangun pagi untuk kerja lagi, tetapi berusaha tidur pun sulit sekali. Dan aku ingat kalau ada blog yang sudah lama tidak ku gunakan. Here I am , berusaha menuliskan beberapa pikiran yang bisa aku tumpahkan lewat tulisan. Benar kata Pamungkas; nights are the hardest . Pagi hari hingga siang atau sore di jam kerja, pikiranku tidak terlalu menggangguku. Mungkin karena di kantor aku bertemu banyak orang, membicarakan banyak hal, mengurus ini-itu terkait pekerjaan, hingga tertawa bersama teman-teman mengenai apapun. Meskipun itu menguras tenagaku, tapi rasanya melalui hal-hal itu tidak terlalu sulit dibandingkan melalui malam-malam sendirian di kosan penuh dengan berbagai macam pikiran memenuhi kepala. Ada banyak orang yang aku rindukan. Terkadang aku rindu adik-adikku. Hampir dua tahun...