Langsung ke konten utama

#2

 


Tahun 2023. Jika di tulisan sebelumnya aku masih sibuk dengan pikiran rumitku di kosan, sibuk dengan rasa rindu dengan keluarga dan teman-teman, saat ini keadaannya jauh berbeda. Ada banyak hal yang terjadi dan beberapa merupakan kejutan bagiku.

Aku sudah tidak di Purwokerto. Akhir tahun lalu, aku sempat mengikuti serangkaian test untuk melamar pekerjaan di salah satu instansi di Kabupaten Semarang. Ada banyak pertimbangan tentunya mengapa aku memilih Kabupaten Semarang. Yang pertama, tentu karena ada kesempatan dan peluang di sana. Jadi yaa apa salahnya mencoba, kan? Selanjutnya, agar aku bisa lebih dekat dengan keluarga di rumah, yang kemudian diikuti dengan pemikiran: oh, sepertinya aku tidak perlu ngekos lagi dong? Harus kuakui, aku cukup kesulitan menyisihkan uang untuk menabung selama di perantauan. Selain karena penghasilanku yang tidak cukup besar, aku juga masih harus menggunakannya untuk biaya hidupku sehari-hari. Mulai dari bayar kosan, bayar listrik (yup, biaya kos belum termasuk listrik yang harus bayar sendiri dengan cara membeli token), beli kuota (tidak ada wifi di kos), biaya makan sehari-hari, jajan (tentu saja!), dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Bisa sih untuk menabung, tapi yaa tidak bisa banyak. Ku pikir, dengan kembali tinggal di rumah dan bekerja tidak jauh dari rumah, aku bisa lebih banyak menyisihkan uang untuk ku tabung.

Meninggalkan Purwokerto bukanlah hal yang mudah. Tentunya ada banyak kenangan selama aku tinggal di sana, kurang lebih selama 2 tahun. Teman-teman yang seru di pekerjaan, tetangga kosan yang baik dan ramah, saudaraku yang selalu ada untukku di sana, hingga kotanya yang asri dan tidak sepadat Semarang, lebih sejuk juga, banyak tempat-tempat menarik untuk dikunjungi. Rasanya, Purwokerto sudah seperti rumah kedua untukku. Dan yang tidak kalah menyedihkannya adalah, aku harus berpisah dengan kehidupanku sebagai "anak rantau", "anak kosan", atau apapun itu sebutannya. Aku tidak lagi tinggal sendiri. Aku tidak lagi punya beberapa kebebasan (atau mungkin privilege?) yang hanya bisa ku rasakan ketika merantau. Seperti halnya bermalas-malasan sepanjang hari saat weekend, bebas main kemana saja dan kapan saja. Hal-hal seperti itu tentunya tidak akan bisa ku dapatkan dengan mudah saat sudah tinggal di rumah dengan keluarga.

Sebuah kejutan bahwa pada akhirnya aku berhasil mendapatkan pekerjaan di Kabupaten Semarang. Terus terang, saat itu aku hanya benar-benar iseng mencoba. Aku tidak mempunyai banyak persiapan, bahkan bisa dibilang aku tidak terlalu berharap dengan pekerjaan ini. Dapat ya syukur alhamdulillah, tidak ya sudah tidak apa-apa. Tidak seperti di tahun 2021 saat aku mengikuti CPNS, saat itu aku benar-benar berharap bisa mendapatkan pekerjaan baru. Eh, nggak lolos! Tapi yang ini, yang tidak dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, malah lolos. Haha, hidup memang penuh dengan kejutan. Kalau ada yang bilang "usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil", maka aku kurang sependapat dengan itu. Terkadang apa yang kita usahakan, justru hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Begitu pun sebaliknya. Balik lagi lah yaa. Kalo memang udah jadi rejeki kita, ya itu akan untuk kita. Dan begitu pula sebaliknya.

Jadi, update kehidupanku sekarang, aku sudah tidak lagi menjadi anak rantau. Aku kembali menjadi anak rumahan yang sehari-harinya lebih banyak waktu di rumah. Setelah dinyatakan lolos di pekerjaan baru, sampai akhir Januari kemarin aku masih bekerja di Purwokerto. Lalu kemudian aku resign. Sepanjang bulan Februari, aku masih di Purwokerto, tapi sudah tidak bekerja. Aku banyak menghabiskan waktuku untuk membereskan urusan pekerjaan yang akan aku pindah-tangankan ke rekan kerjaku, lalu banyak istirahat di kosan, me time, main bersama teman-teman maupun saudara, keliling Purwokerto sebelum nantinya kembali pulang ke Semarang. Setelah perpisahan dengan teman-teman di pekerjaan, akhir bulan Februari aku resmi pindahan ke Semarang. Aku belum mulai masuk kerja di pekerjaan yang baru, mungkin nanti setelah lebaran. Selama itu, aku menghabiskan waktuku untuk quality time di rumah bersama keluarga, alias istirahat sejenak sebelum nanti mulai bekerja lagi.

Menjadi anak rantau maupun anak rumahan pasti mempunyai suka dukanya sendiri. Apapun itu, aku hanya berusaha untuk menjalani apa yang ada saat ini sambil berharap semoga segala sesuatunya berjalan lancar ke depannya. Aku bersyukur, aku jadi punya pengalaman sebagai anak rantau meskipun cuma 2 tahun. Aku banyak belajar saat tinggal sendiri di kota orang. Belajar menghargai waktu, menghargai orang, menghargai moment demi moment yang terjadi dalam hidupku.

Aku yang terbiasa berpikir jauh ke depan, sekarang menjadi sedikit lebih mengerti untuk menghargai dan menjalani segala sesuatunya yang ada hari ini, detik ini, saat ini. Semua sudah ada skenarionya kan? Mungkin layaknya aktor, kita hanya perlu mengikuti naskah, mengikuti skenario yang sudah disiapkan untuk kita dengan sebaik-baiknya. Sukanya, dukanya, yaudah, dinikmatin aja. Toh kalau aku sedang sedih saat ini, suatu saat pasti ada waktunya aku bahagia lagi. Kalau aku sedang bahagia, suatu saat juga akan ada waktu dimana aku sedih. Begitulah hidup, bukan?

Sekarang, dinikmati dulu istirahatnya. Dinikmati dulu menunggu di lampu merahnya. Nanti ada waktunya lampu hijau dan kembali berjalan.

*Photo by Dongsh on Unsplash

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#5

Beberapa hari yang lalu, karena  stress  melihat rambut yang makin tidak terkendali rontoknya, aku memutuskan memotong rambutku sendiri. Hal ini bukan yang pertama kali aku lakukan. Kerontokan rambut ekstrem ini sudah aku alami sejak dulu, tapi sepertinya baru semakin parah dalam setahunan terakhir. Hasil potongannya tidak rapi, tapi ada perasaan lega ketika rambutku yang tadinya hampir sepunggung kini tinggal sebahu, bahkan lebih pendek. Aku biasanya tidak pernah menggunakan poni (meskipun dahiku cukup lebar dan terkadang membuatku tidak percaya diri karena itu). Tapi entah apa yang ku pikirkan, saat itu ku putuskan untuk menyisakan sedikit rambut (dari total rambutku yang juga sudah sedikit) untuk ku potong pendek sebagai poni. Saat semuanya selesai, aku tidak bisa menahan senyum ketika melihat hasilnya di cermin. Melihat bayanganku di cermin, membawaku menjadi banyak merenung. Poni menutup dahi yang sedikit terlalu pendek, rambut lurus yang lebih pendek dari bahu. Ketika ak...

Jurnal Harian

Hari ini, aku akan memulai untuk menulis jurnal harian. Ide ini terinspirasi dari blogger favoritku (yang sekarang juga menjadi influencer ), Keriba Keribo, alias kak Kresnoadi. Di salah satu tulisannya di Karyakarsa, beliau bercerita bahwa ia memiliki sebuah kebiasaan di akhir tahun, yakni melihat kembali jurnal harian yang ia tulis selama 1 tahun terakhir. Dia menuliskan hal-hal apa saja yang dia lalui dalam sehari, yang penting maupun yang tidak penting, untuk kemudian ia lakukan rutin selama setahun, dua tahun, dan tahun-tahun berjalan berikutnya. Dengan kebiasaan itu, ia bisa mengingat moment2 dalam hidupnya. Ketika ia down  dan merasa hidup gini-gini aja, ia akan kembali dibuat bersyukur ketika melihat jurnal hariannya. Bahwa... pernah loh, hidupnya menjadi semenantang itu atau banyak juga moment-moment seru yang mungkin sempat ia lupakan. So, mulai hari ini, aku memutuskan untuk mengadaptasikan kebiasaannya. Jurnal hari ini akan ku buka dengan sedikit cerita mengenai film ...

#1

Isi kepalaku masih ramai. Di saat seperti ini dan belum bisa tidur, terkadang aku bingung harus bagaimana. Membiarkan pikiran berseliweran sungguh mengganggu, terlebih di malam Senin seperti ini. Besok harus bangun pagi untuk kerja lagi, tetapi berusaha tidur pun sulit sekali. Dan aku ingat kalau ada blog yang sudah lama tidak ku gunakan. Here I am , berusaha menuliskan beberapa pikiran yang bisa aku tumpahkan lewat tulisan. Benar kata Pamungkas; nights are the hardest . Pagi hari hingga siang atau sore di jam kerja, pikiranku tidak terlalu menggangguku. Mungkin karena di kantor aku bertemu banyak orang, membicarakan banyak hal, mengurus ini-itu terkait pekerjaan, hingga tertawa bersama teman-teman mengenai apapun. Meskipun itu menguras tenagaku, tapi rasanya melalui hal-hal itu tidak terlalu sulit dibandingkan melalui malam-malam sendirian di kosan penuh dengan berbagai macam pikiran memenuhi kepala. Ada banyak orang yang aku rindukan. Terkadang aku rindu adik-adikku. Hampir dua tahun...