Tahun 2023. Jika di tulisan sebelumnya aku masih sibuk dengan pikiran rumitku di kosan, sibuk dengan rasa rindu dengan keluarga dan teman-teman, saat ini keadaannya jauh berbeda. Ada banyak hal yang terjadi dan beberapa merupakan kejutan bagiku.
Aku sudah tidak di Purwokerto. Akhir tahun lalu, aku sempat mengikuti serangkaian test untuk melamar pekerjaan di salah satu instansi di Kabupaten Semarang. Ada banyak pertimbangan tentunya mengapa aku memilih Kabupaten Semarang. Yang pertama, tentu karena ada kesempatan dan peluang di sana. Jadi yaa apa salahnya mencoba, kan? Selanjutnya, agar aku bisa lebih dekat dengan keluarga di rumah, yang kemudian diikuti dengan pemikiran: oh, sepertinya aku tidak perlu ngekos lagi dong? Harus kuakui, aku cukup kesulitan menyisihkan uang untuk menabung selama di perantauan. Selain karena penghasilanku yang tidak cukup besar, aku juga masih harus menggunakannya untuk biaya hidupku sehari-hari. Mulai dari bayar kosan, bayar listrik (yup, biaya kos belum termasuk listrik yang harus bayar sendiri dengan cara membeli token), beli kuota (tidak ada wifi di kos), biaya makan sehari-hari, jajan (tentu saja!), dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Bisa sih untuk menabung, tapi yaa tidak bisa banyak. Ku pikir, dengan kembali tinggal di rumah dan bekerja tidak jauh dari rumah, aku bisa lebih banyak menyisihkan uang untuk ku tabung.
Meninggalkan Purwokerto bukanlah hal yang mudah. Tentunya ada banyak kenangan selama aku tinggal di sana, kurang lebih selama 2 tahun. Teman-teman yang seru di pekerjaan, tetangga kosan yang baik dan ramah, saudaraku yang selalu ada untukku di sana, hingga kotanya yang asri dan tidak sepadat Semarang, lebih sejuk juga, banyak tempat-tempat menarik untuk dikunjungi. Rasanya, Purwokerto sudah seperti rumah kedua untukku. Dan yang tidak kalah menyedihkannya adalah, aku harus berpisah dengan kehidupanku sebagai "anak rantau", "anak kosan", atau apapun itu sebutannya. Aku tidak lagi tinggal sendiri. Aku tidak lagi punya beberapa kebebasan (atau mungkin privilege?) yang hanya bisa ku rasakan ketika merantau. Seperti halnya bermalas-malasan sepanjang hari saat weekend, bebas main kemana saja dan kapan saja. Hal-hal seperti itu tentunya tidak akan bisa ku dapatkan dengan mudah saat sudah tinggal di rumah dengan keluarga.
Sebuah kejutan bahwa pada akhirnya aku berhasil mendapatkan pekerjaan di Kabupaten Semarang. Terus terang, saat itu aku hanya benar-benar iseng mencoba. Aku tidak mempunyai banyak persiapan, bahkan bisa dibilang aku tidak terlalu berharap dengan pekerjaan ini. Dapat ya syukur alhamdulillah, tidak ya sudah tidak apa-apa. Tidak seperti di tahun 2021 saat aku mengikuti CPNS, saat itu aku benar-benar berharap bisa mendapatkan pekerjaan baru. Eh, nggak lolos! Tapi yang ini, yang tidak dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, malah lolos. Haha, hidup memang penuh dengan kejutan. Kalau ada yang bilang "usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil", maka aku kurang sependapat dengan itu. Terkadang apa yang kita usahakan, justru hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Begitu pun sebaliknya. Balik lagi lah yaa. Kalo memang udah jadi rejeki kita, ya itu akan untuk kita. Dan begitu pula sebaliknya.
Jadi, update kehidupanku sekarang, aku sudah tidak lagi menjadi anak rantau. Aku kembali menjadi anak rumahan yang sehari-harinya lebih banyak waktu di rumah. Setelah dinyatakan lolos di pekerjaan baru, sampai akhir Januari kemarin aku masih bekerja di Purwokerto. Lalu kemudian aku resign. Sepanjang bulan Februari, aku masih di Purwokerto, tapi sudah tidak bekerja. Aku banyak menghabiskan waktuku untuk membereskan urusan pekerjaan yang akan aku pindah-tangankan ke rekan kerjaku, lalu banyak istirahat di kosan, me time, main bersama teman-teman maupun saudara, keliling Purwokerto sebelum nantinya kembali pulang ke Semarang. Setelah perpisahan dengan teman-teman di pekerjaan, akhir bulan Februari aku resmi pindahan ke Semarang. Aku belum mulai masuk kerja di pekerjaan yang baru, mungkin nanti setelah lebaran. Selama itu, aku menghabiskan waktuku untuk quality time di rumah bersama keluarga, alias istirahat sejenak sebelum nanti mulai bekerja lagi.
Menjadi anak rantau maupun anak rumahan pasti mempunyai suka dukanya sendiri. Apapun itu, aku hanya berusaha untuk menjalani apa yang ada saat ini sambil berharap semoga segala sesuatunya berjalan lancar ke depannya. Aku bersyukur, aku jadi punya pengalaman sebagai anak rantau meskipun cuma 2 tahun. Aku banyak belajar saat tinggal sendiri di kota orang. Belajar menghargai waktu, menghargai orang, menghargai moment demi moment yang terjadi dalam hidupku.
Aku yang terbiasa berpikir jauh ke depan, sekarang menjadi sedikit lebih mengerti untuk menghargai dan menjalani segala sesuatunya yang ada hari ini, detik ini, saat ini. Semua sudah ada skenarionya kan? Mungkin layaknya aktor, kita hanya perlu mengikuti naskah, mengikuti skenario yang sudah disiapkan untuk kita dengan sebaik-baiknya. Sukanya, dukanya, yaudah, dinikmatin aja. Toh kalau aku sedang sedih saat ini, suatu saat pasti ada waktunya aku bahagia lagi. Kalau aku sedang bahagia, suatu saat juga akan ada waktu dimana aku sedih. Begitulah hidup, bukan?
Sekarang, dinikmati dulu istirahatnya. Dinikmati dulu menunggu di lampu merahnya. Nanti ada waktunya lampu hijau dan kembali berjalan.

Komentar
Posting Komentar