Langsung ke konten utama

#6


Hari ini adalah hari ke-tujuh belas di tahun 2024. Libur tahun baru selama 3 hari sudah usai dan di sinilah aku sekarang, sudah berada di kantor dan kembali bingung harus melakukan apa karena belum banyak pekerjaan yang bisa ku kerjakan. Tetapi pikiranku sudah ramai lalu lalang seperti biasanya. Yah, ku rasa tahun baru tidak ada yang berbeda. Dariku, maupun dari orang-orang sekitarku.

Orang-orang biasanya mengawali tahun baru dengan flashback bagaimana kehidupan mereka selama setahun di tahun 2023. Kalau kamu menanyakannya padaku, maka tahun 2023 adalah salah satu tahun paling berkesan untukku karena di tahun itu terjadi perubahan yang cukup besar di hidupku.

Di tahun 2023, aku harus melepas pekerjaanku sebagai surveilans di puskesmas, tapi alhamdulillah setelahnya diberi pekerjaan baru sebagai aparatur sipil negara di tempat yang berbeda. Aku kehilangan teman-teman dekatku di puskesmas yang sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri, tapi alhamdulillah setelahnya aku kembali menemukan teman-teman baru di lingkungan yang baru. Meskipun belum bisa sepenuhnya akrab, tapi alhamdulillah, semua pasti terjadi karena kehendak Tuhan dan aku hanya bisa menjalaninya. Aku meninggalkan kehidupanku sebagai anak kos di Kab. Banyumas, untuk kembali menjadi anak rumahan yang tinggal bersama orang tua dan adik-adikku di Kota Semarang, dan kembali menjadi pelaju perjalanan hampir setiap hari ke kantor yang berada di Kab. Semarang. Seperti kata Banda Neira, "yang patah tumbuh, yang hilang berganti".

Beradaptasi dengan lingkungan baru tidaklah mudah, tentu saja. Apalagi bagi diriku yang introvert ini. Seringkali aku kehabisan tenaga menyamakan energiku dengan teman-temanku yang sebagian besar adalah extrovert. Aku juga terkadang masih merasa mental breakdown ketika aku merasa gabut dan tidak punya hal yang bisa ku kerjakan di kantor, sementara teman-temanku yang lain sibuk dengan pekerjaannya. Rasanya aku hanya bekerja "serabutan", bekerja hanya jika ada yang membutuhkanku. Jika dibilang apakah aku menyesal membuat keputusan untuk bekerja di sini? Ya, sedikit ada penyesalan terus terang. Tapi semua ada plus-minus nya, meskipun mungkin sekarang yang aku temukan di sini lebih banyak minus-nya. Bagaimanapun, aku hanya bisa menjalaninya sampai waktunya tiba nanti. Aku rasa aku harus lebih banyak bersyukur atas apa yang aku jalani dan apa yang aku miliki sekarang.

Di tahun ini, aku tidak tahu apa saja yang akan terjadi ke depan. Bulan Januari ini terasa lebih lama dari biasanya. Rasanya seperti sudah menjalani sebulan penuh, padahal tanggal baru menunjukkan tanggal 17. Baru pertengahan bulan. Ada sedikit kekhawatiran akan banyak hal yang belum terjadi di depan sana, tapi kembali lagi, bukankah semuanya sudah ditentukan dan aku tinggal menjalaninya? Aku berharap tahun ini, aku dan hidupku bisa menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Lebih banyak bersyukur, lebih banyak bahagia, lebih banyak menghargai setiap orang, setiap moment dalam hidup. Aku ingin "lebih hidup", tidak hanya menjadi zombie yang mengulang rutinitas yang sama dengan hati yang berat tanpa menikmatinya. Ada banyak tempat yang ingin aku kunjungi. Ada banyak makanan yang masih belum aku cicipi. Aku ingin bisa lebih mencintai diriku melebihi aku mencintai orang lain.

Hidup harus terus berjalan bagaimanapun keadaannya.

*Photo by Ryoji Iwata on Unsplash

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#5

Beberapa hari yang lalu, karena  stress  melihat rambut yang makin tidak terkendali rontoknya, aku memutuskan memotong rambutku sendiri. Hal ini bukan yang pertama kali aku lakukan. Kerontokan rambut ekstrem ini sudah aku alami sejak dulu, tapi sepertinya baru semakin parah dalam setahunan terakhir. Hasil potongannya tidak rapi, tapi ada perasaan lega ketika rambutku yang tadinya hampir sepunggung kini tinggal sebahu, bahkan lebih pendek. Aku biasanya tidak pernah menggunakan poni (meskipun dahiku cukup lebar dan terkadang membuatku tidak percaya diri karena itu). Tapi entah apa yang ku pikirkan, saat itu ku putuskan untuk menyisakan sedikit rambut (dari total rambutku yang juga sudah sedikit) untuk ku potong pendek sebagai poni. Saat semuanya selesai, aku tidak bisa menahan senyum ketika melihat hasilnya di cermin. Melihat bayanganku di cermin, membawaku menjadi banyak merenung. Poni menutup dahi yang sedikit terlalu pendek, rambut lurus yang lebih pendek dari bahu. Ketika ak...

Jurnal Harian

Hari ini, aku akan memulai untuk menulis jurnal harian. Ide ini terinspirasi dari blogger favoritku (yang sekarang juga menjadi influencer ), Keriba Keribo, alias kak Kresnoadi. Di salah satu tulisannya di Karyakarsa, beliau bercerita bahwa ia memiliki sebuah kebiasaan di akhir tahun, yakni melihat kembali jurnal harian yang ia tulis selama 1 tahun terakhir. Dia menuliskan hal-hal apa saja yang dia lalui dalam sehari, yang penting maupun yang tidak penting, untuk kemudian ia lakukan rutin selama setahun, dua tahun, dan tahun-tahun berjalan berikutnya. Dengan kebiasaan itu, ia bisa mengingat moment2 dalam hidupnya. Ketika ia down  dan merasa hidup gini-gini aja, ia akan kembali dibuat bersyukur ketika melihat jurnal hariannya. Bahwa... pernah loh, hidupnya menjadi semenantang itu atau banyak juga moment-moment seru yang mungkin sempat ia lupakan. So, mulai hari ini, aku memutuskan untuk mengadaptasikan kebiasaannya. Jurnal hari ini akan ku buka dengan sedikit cerita mengenai film ...

#1

Isi kepalaku masih ramai. Di saat seperti ini dan belum bisa tidur, terkadang aku bingung harus bagaimana. Membiarkan pikiran berseliweran sungguh mengganggu, terlebih di malam Senin seperti ini. Besok harus bangun pagi untuk kerja lagi, tetapi berusaha tidur pun sulit sekali. Dan aku ingat kalau ada blog yang sudah lama tidak ku gunakan. Here I am , berusaha menuliskan beberapa pikiran yang bisa aku tumpahkan lewat tulisan. Benar kata Pamungkas; nights are the hardest . Pagi hari hingga siang atau sore di jam kerja, pikiranku tidak terlalu menggangguku. Mungkin karena di kantor aku bertemu banyak orang, membicarakan banyak hal, mengurus ini-itu terkait pekerjaan, hingga tertawa bersama teman-teman mengenai apapun. Meskipun itu menguras tenagaku, tapi rasanya melalui hal-hal itu tidak terlalu sulit dibandingkan melalui malam-malam sendirian di kosan penuh dengan berbagai macam pikiran memenuhi kepala. Ada banyak orang yang aku rindukan. Terkadang aku rindu adik-adikku. Hampir dua tahun...